Monday

Anak Malas Sekolah?

Sudah seminggu ini Rosa melihat perubahan drastis pada putrinya, Rachel. Rachel, empat tahun, yang biasanya bersemangat bercerita soal aktivitasnya di sekolah, tiba-tiba terlihat sering melamun dan malas-malasan. Malas mengerjakan PR, malas belajar, bahkan bila tidak dibujuk, ia juga malas berangkat sekolah. Sepertinya, ia berubah menjadi begitu membenci sekolah.


Apa yang terjadi pada Rachel memang sesuatu yang sering dihadapi para ibu. Sesekali anak malas sekolah adalah hal yang wajar. Tetapi Anda sebagai orangtua harus bijak menyikapi sikap tersebut agar anak tetap menyadari arti pentingnya sekolah.


Sikap anak yang menunjukkan malas ke sekolah sering membuat orangtua panik. Untuk mengatasi sikap tersebut maka banyak orangtua sering berusaha membujuk dengan iming-iming barang atau sesuatu yang disukai agar anaknya mau sekolah. Bahkan ada juga yang memarahi atau bahkan menghukum anak.


Memang kadang cara itu cukup efektif, tetapi tidak menumbuhkan kesadaran anak akan pentingnya sekolah. Kalaupun anak berangkat juga, dia melakukannya dengan keterpaksaan karena takut dimarahi orangtuanya. Menurut Psikolog Desi Adriana dari Growth Consultan, anak malas sekolah sesuatu yang wajar terjadi dan akan muncul kapan saja. Yang terpenting adalah orangtua jangan memarahinya saat menunjukkan tanda-tanda seperti itu dan sebaiknya Anda mencari tahu penyebabnya. Sebab jika malas sekolah terus terjadi dan orangtua tidak tahu penyebabnya, maka anak makin malas sekolah atau bahkan membenci sekolah.


Banyak manfaat jika orangtua tahu penyebab anak bosan sekolah. Dengan begitu Anda bisa menangani dan menyadarkan mereka pentingnya pergi ke sekolah. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk membangkitkan anak supaya mau sekolah lagi. Pertama cobalah beri gambaran pada anak bahwa sekolah sangat penting bagi kehidupannya kelak. Seperti mengatakan, "Jika Adek ingin jadi dokter harus rajin sekolah, biar bisa mengobati mama kalau sakit".


Selain itu, orangtua juga bisa mengambarkan bahwa sekolah adalah kegiatan yang menyenangkan. Dengan mengatakan bahwa di sekolah nanti dia akan bertemu dan bermain bersama teman. Katakan juga bahwa dengan banyak teman kalau dia sedang mengalami kesulitan, maka banyak yang menolong.


Kalaupun dengan tindakan itu, anak tetap berkeras tidak masuk sekolah. Meskipun terpaksa, sesekali orangtua boleh menuruti keinginannya. Sebab jika dipaksakan sekolah, mungkin anak jadi bosan dan malah merasa sekolah tidak menyenangkan. Namun sebelumnya harus diberikan peringatan tegas dengan mengatakan, "untuk kali ini mama kasih izin kamu nggak masuk sekolah, tapi adek harus cerita kenapa nggak mau sekolah". Dengan begitu anak diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya dan tidak hanya dipandang sebagai objek yang harus selalu menuruti apapun kemauan orangtua.


Penyebab anak malas atau bosan sekolah bisa juga karena beban pelajaran yang terlalu berat, terlalu banyak les, lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan, jarak sekolah terlalu jauh dan sebagainya. Banyaknya mata pelajaran dan PR bisa membuat anak nervous dan terbebani. Akibatnya, ketika pulang sekolah anak sering terlihat uring-uringan dan tidak mau sekolah keesokan harinya.


Jika orangtua tahu penyebabnya adalah beban pelajaran yang berat, orangtua harus aktif mengetahui tugas apa saja yang diberikan guru pada anak. Periksalah kapan waktu penyerahan tugas yang ditentukan guru, bimbing dan koreksi anak dalam mengerjakan PR. Jika Anda tahu penyebabnya, maka bisa memberikan solusi terbaik buat anak.


Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?


Entah karena kekacauan perkawinan orangtuanya atau kelahiran adik baru. Anak seringkali tidak mampu mengatasi hal-hal demikian. Sehingga sebagai pelampiasannya, dia melakukan pemukulan dan agresivitas di sekolahnya.


Bila penyebab anak malas sekolah karena sakit atau sedang tak enak badan, biarkan saja untuk sementara anak tak masuk sekolah. Begitu tubuhnya sudah mulai enakan, perasaan anak pasti juga akan membaik. Dan ia pun akan kembali bersemangat masuk sekolah.


Sementara kalau dia merasa takut pada temannya yang jahat di sekolah, orangtua harus membicarakan masalah itu pada gurunya. Guru biasanya lebih mengetahui latar belakang kenapa anak didiknya tiba-tiba jadi agresif dan "nakal," atau ketakutan. Bisa jadi, mereka punya masalah di keluarganya. Entah karena kekacauan perkawinan orangtuanya atau kelahiran adik baru. Anak seringkali tidak mampu mengatasi hal-hal demikian. Sehingga sebagai pelampiasannya, dia melakukan pemukulan dan agresivitas di sekolahnya.


Anda sebaiknya juga membesarkan hati anak bahwa musuh yang kelihatan besar pun tidak sekuat yang diperlihatkannya. Selain itu, yang perlu dilakukan juga adalah mencoba mengatasi ketakutan dan kekhawatiran anak. Dengan demikian, ketakutannya akan mereda. Minta pula bantuan guru untuk mengatasi "pengganggu" dengan cara yang bijak.


Jika putus persahabatan yang membuat anak malas sekolah, sebagai orang tua ada baiknya meminta bantuan guru di sekolah untuk membujuk si kecil agar mau kembali bersekolah. Gurulah yang bisa menjembatani kembali persahabatan si kecil dengan teman-teman sepermainannya kembali.


Sedangkan bila anak malas sekolah karena tak mau lepas dari ibunya, hanya konsistensilah yang dapat mengatasi hal ini. Jangan biarkan diri Anda dimanipulasi oleh si kecil, entah cuma sekali maupun untuk selanjutnya. Si kecil akan melakukan "strategi" baru begitu Anda membawanya kembali ke sekolah setelah beberapa hari "bolos." Sebelum Anda merasa menjadi ibu yang kejam gara-gara si kecil selalu menangis begitu Anda tinggal pergi, Anda bisa minta bantuan suami atau kerabat untuk mengantar anak ke sekolah.


Anak malas sekolah karena kedatangan adik bayi? Coba beritahu gurunya. Guru bisa membantu meminta si kecil menceritakan pengalamannya tentang kedatangan si adik baru. Juga menceritakan apa saja yang telah dilakukannya pada adik barunya. Sebagai kakak, dia akan merasa bangga mendapat perhatian dari banyak teman dan orang-orang di sekelilingnya atas peristiwa datangnya adik baru tersebut. Cara ini biasanya sangat berhasil dalam beberapa kasus. Anak jadi bangga dan bersemangat pergi sekolah, tempat di mana ia merasa menjadi "seseorang".


Begitu pula kalau penyebabnya karena anak masih terlalu muda. Jika memungkinkan dan pihak sekolah juga setuju, jangan memasukkan anak di awal tahun ajaran pada saat anak-anak lain juga baru masuk. Pada waktu itu, perhatian guru pasti akan berkurang pada anak kita. Masukkan anak ke sekolah setelah anak-anak lain sudah "mandiri" dan guru punya banyak waktu sebagai "ibu" bagi anak kita yang masih sangat tergantung ini.


Lalu bagaimana jika masalahnya karena anak tak suka pada gurunya? Anda bisa mengatasinya dengan meminta pihak sekolah memasukkannya ke kelas lain. Jika ini tak memungkinkan, saatnya Anda harus mencarikan anak sekolah lain.


Cobalah minta bantuan guru, jika anak malas sekolah karena merasa tak mampu. Seorang guru yang mengetahui dengan persis apa yang terjadi, akan berusaha mengatasi situasi ini sampai anak mampu menerima pembelajaran yang diberikan padanya. Banyak cara yang bisa dilakukan agar anak merasa senang dan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukan tugas-tugas lainnya.


Solusi terakhir, bila penyebab malas sekolah disebabkan perasaan bosan, orangtua sebaiknya teliti dalam mencarikan sekolah buat anaknya. Jangan terkecoh oleh program yang ditulis dalam brosur semata. Lebih baik lihat dengan mata sendiri bagaimana program yang mereka laksanakan. Tak ada salahnya meminta waktu agar anak bisa mencoba selama beberapa hari sekolah di tempat tersebut. Sekolah yang baik harus banyak melakukan permainan yang menyenangkan. (berbagai sumber)/Harian-Global.com